Volunteering: Christmas Nursing House Visit

Bulan Desember adalah bulan yang spesial, tidak hanya karena menandakan bergantinya tahun, namun juga karena dalam bulan inilah kita merayakan hari Natal, hari kelahiran Yesus Kristus. Sebagai anak Tuhan, kami mengartikan Natal sebagai kasih. Maka pada bulan Desember ini, JPCC DATE Alam Sutera 3 dan Menteng 3 menyelenggarakan acara kunjungan ke panti jompo dengan tema “Love in Christmas” untuk berbagi kasih dengan para oma-opa di Panti Wredha Kasih Ayah Bunda, Karawaci.

361AA31C-A5BB-438C-9383-04B8F1AF839C.jpg

Kunjungan kami diterima dengan baik oleh para orang tua yang tinggal disana. Pada mulanya kami semua malu-malu karena tidak tahu harus ngomong apa, meskipun telah berniat untuk ngajak ngobrol dan mengusir rasa kesepian mereka. In my case, waktu berdiri canggung, tangan saya malah ditarik dulu oleh seorang nenek berkursi roda, dan tanyanya, “Kamu darimana?” Dari situlah kami mulai berbincang-bincang. Berhubung sudah lanjut usia, ada yang pikun dan mengajak kenalan berkali-kali, tapi ada juga yang mentalnya masih tajam dan suka bercerita.

5D4050B4-A188-4AB2-982D-E9DF563D47BE.jpg

Setelah praise & worship bersama-sama, waktunya menghibur para manula. Ada lomba joget balon dimana seorang DATEr berpasangan dengan seorang oma/opa, mengapit balon dengan kepala, dan berjoget ria. Kemudian ada lomba merias dimana oma-oma merias DATErs laki-laki menjadi cantik-cantik. Terakhir ada lomba tebak lagu jadul sebagai penutup acara. Jam 6 sore kami menggiring oma opa ke ruang makan untuk makan malam, fine-dining style.

03BF3600-144C-4DB7-B627-FBAA1EADBD7A.jpg

FE6C7899-44B7-4920-B423-89A80AC3AC90.jpgIMG_1168.JPG

Ruang makan yang tadinya polos dan sederhana disulap menjadi penuh keceriaan Natal oleh tim dekor kami. Lagu-lagu Natal diputar dan santapan disuguhkan satu persatu oleh para DATErs. Untuk manula yang berkesulitan makan, daging ayamnya disuwirkan terlebih dahulu. Teh hangat disuguhkan dalam tumbler yang dipesankan khusus, bertuliskan nama oma-opa sebagai kenang-kenangan. Sebagai dessert ada buah-buahan segar dan puding yang gampang dikunyah. Selesai makan, kami foto bersama dan membagikan hadiah kepada setiap oma-opa.

BF38500F-30EB-42A9-A469-4D8E96A492E7.jpg

Kenapa panti jompo, bukan panti asuhan? Well, because it’s a challenge. Hari itu pertama kali membuka pintu masuk ke dalam rumah jompo saya merasakan keheningan yang luar biasa, meskipun sudah ada oma-opa yang duduk santai di ruang keluarga menunggu acara dimulai. Suasana ini sangat berbeda dengan di panti asuhan, yang ramai dan banyak anak kecil berlari kesana-kemari dengan riangnya. Semangat hidup yang terpancar dari anak-anak dapat dengan mudah mempengaruhi pengunjung, dan tanpa berusaha keras pun relatif mudah untuk menyenangkan anak kecil. Sedangkan tidak semudah itu untuk mebuat orang tua yang sudah banyak melihat dan kaya akan pengalaman merasa terkesan. Disinilah kami keluar dari zona nyaman. MC kita yang adalah guru sekolah minggu pun merasakannya, tidak sulit baginya untuk maju kedepan dan membawa acara, yang sulit adalah tetap bersemangat di panggung waktu menghadapi muka-muka datar para oma-opa, dan pada akhirnya berhasil membuat mereka berpartisipasi dalam acara.

IMG_1170.JPG

Selain alasan menaklukkan tantangan dan keluar dari zona nyaman, acara bakti sosial DATE gabungan ini diputuskan ke panti jompo supaya kita belajar tentang memberi tanpa pamrih, dan tentang living in the moment. Kemungkinan besar kami tidak akan dapat melihat orang-orang tua ini lagi di kemudian hari. Saat hendak membagikan tumbler, kami diinformasikan bahwa ada seorang opa yang telah tiada. Padahal dari panitia menjenguk sampai acara hanya berjangka waktu dua minggu saja. Amatlah berharga waktu yang dapat dipakai untuk membahagiakan oma-opa ini. Kami bersyukur dapat menjadi berkat sesaat dalam hidup mereka.

Panti jompo ini tidak kekurangan dalam hal materi, namun mereka hidup kesepian seperti halnya orang tua tanpa kerabat dekat pada umumnya. Pada akhir acara mereka mengucapkan “Terima kasih.” Memang hanya itu saja yang kita dapatkan, tapi kita juga telah level up. Walaupun kunjungan hanya berkisar tiga jam, mungkin akan segera terlupakan, dan tidak mendapatkan balasan apa-apa, kami senang telah dapat berbagi kasih dan keceriaan Natal dengan mereka. Sebuah kutipan dari Thomas S. Monson sebagai penutup, “Christmas is the spirit of giving without the thought of getting.” Merry Christmas!

IMG_1153.JPG

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s